Happy thursday everybody! Semoga hari kalian menyenangkan!
Disini gue mau share tentang latar belakang gue yang sebenarnya, cerita panjang di balik sikap keseharian gue, yang selama ini gue alamin, gue rasain, dan sekaligus yang gue tutup-tutupin. Sebenernya tulisan ini udah gue susun jauh-jauh hari, mau nge-pos tapi masih nemuin banyak keraguan. Masih bimbang, salah apa enggak gue cerita mengenai hal ini di sini.
Dan pada akhirnya gue memutuskan untuk nge-pos juga tulisan ini. Karena gue ngerasa kali ini timing-nya pas banget. Gue juga sadar, kalo gak bakalan selamanya gue bisa nutup-nutupin ini semua, ngerasain semua ini sendirian, terus-terusan. Pada dasarnya gue cuma manusia biasa, gue juga bisa rapuh, nggak lagi sanggup nahan semua ini, untuk sekian lamanya. Nggak peduli apa nanti yang terjadi setelah ini, nggak peduli apa kata orang tentang tulisan gue ini.
Cerita ini adalah tentang keluargaku. Kalian sendiri pasti udah tahu definisi dari keluarga, kan? Jadi gue nggak perlu ngejelasin lebih panjang lagi.
Yang gue alamin sekarang, bener-bener nggak sesuai sama impian seorang anak di seluruh dunia. Kehidupan keluarga gue nggak semulus kelihatannya. Nggak serapih yang orang-orang tahu.
Sekitar lima atau enam tahun yang lalu, ada badai besar menghantam kehidupan keluarga gue. Maaf, gue nggak bisa sebut, masalah apa yang gue sebut "badai" itu. Dan dari sana lah, satu demi satu permasalahan, konflik, atau apalah itu, mulai berdatangan. Gue yang saat itu masih berusia sekitar 10 tahun belum terlalu paham dengan apa yang terjadi. Yang gue tahu, keluarga yang saat itu gue kenal, udah bener-bener berbeda dengan keluarga gue, yang gue kenal sebelumnya. Yang dulunya merupakan tempat gue berteduh, berlindung, dan mendapat kasih sayang, sekarang malah berbalik seolah menjadi sebuah samurai yang dengan tajamnya meremukkan semua perasaan. Sakit. Gitu intinya.
Di antara kedua orang tua gue, udah nggak ada kata "damai". Itulah yang bikin gue kadang-kadang ngerasa nggak betah berada di rumah. Meskipun segala fasilitas udah mereka sediakan, tapi sejatinya bukan itu yang gue mau. Gue adalah seorang anak, dan dalam keluarga, gue berharap bisa dapet segala kenyamanan dan ketentraman dari situ.
Tapi ternyata, semua nggak akan berjalan semanis yang gue kira. Guncangan yang udah sekian lama gue rasain dalam keluarga gue, udah bikin gue terbiasa menelan seluruh dari keadaan ini. Sehingga, dari luar gue terlihat layaknya seorang anak pada umumnya, tapi siapa sangka di balik tiap-tiap polah dan pembicaraan gue di luar, ternyata hati gue rapuh, keluarga gue...
Emang belum pernah ada yang tahu tentang semua ini.
Satu hal lagi yang gue mau omongin di sini. Sejak pertama kemunculan biang dari segala masalah di keluarga gue, yaitu yang gue sebut sekitar lima atau enam tahun yang lalu itu, gue udah nggak pernah lagi akur sama Bapak gue. Memang, sampai saat ini pun kita sekeluarga masih tinggal serumah, tapi setiap harinya nggak pernah ada komunikasi diantara gue sama dia. Pernah sekitar 2 tahun yang lalu, puncak perdebatan gue sama dia terjadi, waktu itu gue udah bener-bener nggak bisa nahan emosi dan amarah yang gue pendem bertahun-tahun lamanya. Kebetulan, waktu itu dia yang bikin perkara duluan sama gue. Seperti biasanya, dia sok-sokan jadi yang paling bener, dengan nada tinggi dia mulai ngelimpahin semua salah ke gue. Disitulah, emosi gue memuncak. Langsung di hadapannya gue teriak, semua hal, semua kejelekan dia yang gue tahu. Tentang kebencian gue atas segala perkataan dan perilaku dia ke Ibuk, gue, dan juga adek gue. Tentang semua hal yang dia perbuat, yang mengundang semua masalah yang nggak kunjung usai dalam keluarga gue. Gue juga sempat ngelontarin kata-kata 'kotor' ke dia. Jangan pernah salahin orang yang lagi emosi. Karena kalian pun mungkin akan melakukan hal yang sama kalo seandainya ada di posisi gue saat itu.
Berakhir dari situ, kesenjangan diantara gue sama dia makin menjadi-jadi. Kita nggak pernah punya pendapat yang sama. Karena emang itu perbedaannya, gue nggak se***** dia.
Sebaliknya, gue sampai sekarang deket banget sama Ibuk. Bener kan, gue memihak ke Ibuk? Ibuk orang baik-baik, dia wanita yang tegar, dia kuat menghadapi semua maut yang melintas di dalam keluarga kami, dia tetap menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya, dia mampu melindungi gue dan adek gue, mampu ngasih kasih sayang, dan segala kebutuhan kami dia sanggup mencukupi, walaupun sebenarnya dia ngerasain kehancuran yang lebih berat daripada gue. Iya, gue tahu itu. Dari matanya, dari tiap-tiap lamunannya, dari tiap tangisan dalam sholat dan do'anya, gue paham kalo sebenarnya dia bener-bener menahan kerapuhan yang teramat besar.
Bukankah dia wanita yang sangat kuat? Dia bertahan bertahun-tahun untuk keluarga kami, tanpa memperdulikan lukanya sendiri. Beda sama gue, gue yang dari dulu menghendaki kedua orang tua gue buat cepet-cepet "bubar". Karena apa? Karena gue nggak mampu ngelihat Ibuk gue nangis! Gue nggak tega Ibuk terluka terus-terusan. Gue juga udah ngeyakinin Ibuk berkali-kali dengan bilang, "Kita bisa cari bahagia kita sendiri, Buk." Dalam hati, gue selalu berbisik ke diri gue sendiri, kalo dengan keluarga yang tetap utuh tapi tiap harinya cuma ada tangisan, buat apa di pertahankan?
Kalian nggak akan pernah bisa bayangin gimana rasanya jadi gue, yang selama enam tahun menghadapi pedihnya kehidupan dalam sebuah keluarga. Gue berharap diantara kalian nggak akan ada yang mengalami hal serupa kayak gue ini. Itu sakit, gan, sis, bro. Beneran.
Sekian cerita gue kali ini, mungkin gue masih bisa share beberapa cerita gue yang selanjutnya. Tentunya di lain kesempatan ya. Thanks udah ngeluangin waktu dan kuota buat baca curhatan gue yang menyedihkan ini. Karena kalian adalah semangat gue untuk terus menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar