Artwork

Selasa, 16 Agustus 2016

15 Agustus 2016

Maaf ibuk
Tapi aku memang tak tahu harus bagaimana lagi
Aku bingung harus seperti apa

Yang jelas hatiku jujur
Aku tak bisa membohongi diriku sendiri

Ibuk,
Mengertilah hatiku
Putrimu ini tak menghendaki dia kembali lagi ke tengah2 kita yang sudah cukup tenang ini

Apapun alasannya
Aku tidak akan bisa terima buk

Pahamilah aku
Aku terlalu lelah untuk menangis lagi
Aku sudah terlalu tak berdaya untuk mengeluh lagi

Lebih baik aku pergi dari rumah buk
Daripada harus menahan sakit yang bertubi

O ya
Aku juga ingin bertanya, buk
Kenapa semalam dia bisa kembali?
Kenapa ada pintu terbuka untuknya?
Kenapa bisa itu terjadi tanpa aku tahu?
Sengajakah?
Memang direncanakan kah?

Kalau benar tolong katakan saja buk
Daripada rasa ini menghantuiku

Aku ingin bertanya
tapi untuk apa
Aku kira sudah tidak ada gunanya

Mungkin ibuk menganggapku hanyalah anak kecil yang tak tahu apa2 tentang urusan orang dewasa
Mungkin ibuk menganggapku tak berhak tahu permasalahan orang dewasa

Sayang sekali aku tidak terlalu berani untuk mengungkapkan pertanyaan penuh teki ku itu, buk

Jangankan mengucapkan secara lisan
Merenung sendiri pun aku tak mampu menahan air mata

Aku selalu tak berhasil menahannya
Ia akan selalu tumpah

Aku membiarkannya , buk
Karena, mungkin hanya ia yang mampu menunjukkan seberapa sakit batinku selama ini

Bukan apa
Aku hanya kecewa
Atas kembalinya dia
Aku tidak bisa terima


Tolong ibuk berfikirlah
Mau sampai kapan disakiti
Mau sampai kapan dibohongi
Mau sampai kapan dirayu
Mau sampai kapan digombali

Mulutnya penuh racun, buk
Ku kira ibuk sudah cukup tahu
Nyatanya masih saja sampai sekarang ibuk bisa percaya
Nyatanya masih saja sampai sekarang ibuk bisa menerimanya

Ibuk, maaf
Ibuk tidak terlalu bodoh kan?
Ibuk mengajarkanku untuk pintar bukan?

Tolong tunjukkan kalau ibuk tidak terlalu bodoh untuk terus dibodohi oleh orang bodoh seperti dia

O ya
Kalau ibuk berfikir mau kembali dengannya
Dengan alsan karena tak mampu membiayai pendidikanku
Maaf, buk
Tapi sebaiknya katakan dengan lugas saja di depanku
Aku bisa, memutuskan untuk bekerja dahulu sebelum meneruskan studiku
Bukan masalah besar bagiku, buk

Lebih baik menunda studi daripada mengulang bencana dalam keluarga lagi, bukan?

Sehingga aku tak perlu lagi ada dia, buk
Sehingga tak ada alasan lagi untuk ibuk kembali menerimanya

Aku salah buk?
Katakan saja

Ku kira engkau sudah cukup tahu buk
Putrimu ini peka rasa
Sangat mudah merasa
Tanpa kata pun aku selalu mampu menerjemahkan apa yang sedang terjadi

Satu lagi yang perlu ibuk tahu..

Lahir batin aku membenci dia
Alasanku adalah karena aku tidak pernah rela air matamu berjatuhan karena dia, buk

Dia terlalu hina untuk kau tangisi, buk

Karena aku tak pernah rela surga terdekatku digores hatinya dengan luka

Karena aku tak pernah rela, kehidupan wujud kasih Tuhanku padaku di khianati separah ini

Aku menbencinya karena aku menyayangimu, buk.

Maaf apabila aku pernah membuat air matamu menetes buk
Maaf apabila aku pernah membuat hatimu terluka buk
Maaf apabila aku pernah menyakitimu dan mengecewakanmu buk

Maaf aku belum pernah menunjukkan baktiku padamu
Maaf aku belum pernah membanggakanmu
Maaf jika sampai saat ini kau belum pernah bangga memiliki aku dalam hidupmu, buk

Tunggu suatu nanti, doakan aku agar dapat membanggakanmu buk.

Pahamilah buk. Aku mencintaimu fillah.