Bapak..
Tidakkah kau rindu denganku?
Putrimu yang sedari dulu kau banggakan
Putrimu yang sedari dulu kau sayang
Tahukah kau
Aku merindukanmu
Merindukan kasih dan sayang yang selalu kau beri dulu
Rindu dekap pelukmu
Rindu mata teduhmu
Rindu hati damaimu
Tahukah kau
Aku begitu bangga memilikimu
Aku sangat mengidolakanmu
betapa aku merasa nyaman dalam pelukmu
Tahukah engkau, pak..
Sekarang semua tidak lagi sama seperti dulu
Tidak lagi ada jiwamu yang dulu
Kau merubahnya
Segalanya
Kau membuatku membencimu
Kau membuat aku jauh darimu
Kau merajut jarak denganku
Apa salah dan dosaku
Setega itu kau melenyapkan semua kedamaian yang pernah ada
Setega itukah melukai putrimu
Sampai hati kau melihat putrimu meratap setiap hari
Sampai hati kau menggores luka dalam hatinya
Sampai hati kau meninggalkannya
Kemana kah kau yang dulu
Kemana perginya damai hatimu
Kemana perginya kasih sayangmu
Tahukah kau, Bapakku...
Aku telah tumbuh
Aku sudah dewasa
Dan dalam rumah ini lah aku dibesarkan
Dalam rumah ini pula aku mengetahui semuanya
Perlahan aku belajar mengerti
Perlahan aku berusaha memahami
Bapak...
Semua sudah jelas
Aku sangat kecewa
Aku sangat terluka
Bapak...
Bisakah kau beritahu aku
Harus bagaimana aku
Harus seperti apa aku
Apa lagi yang ku mampu
Aku tetaplah putrimu
Aku tetap memiliki darahmu dalam darahku
Aku tetap memiliki ingatan tentangmu
Aku tetap memiliki ikatan denganmu
Namun asal engkau tahu
Semua yang kau lakukan itu
Sulit untuk ku terima
Sulit untuk ku maafkan pula
Maafkan aku
Tapi aku sangat membencimu
Aku sangat menyesali kedekatanku denganmu, dulu
Aku begitu muak mendengar namamu
Maafkan aku
Tapi air mataku telah kering terkuras olehmu
Hatiku telah penuh lubang luka karenamu
Begitu juga dengan kehidupanku
Bapak...
Mungkin ini sudah garisku
Harus bertahan diatas liku kertas kehidupan-Nya
Harus mampu kuat
Meski sebenarnya rapuh
Aku sudah cukup mampu menahan diriku
Aku sudah mengerti
Jangan risau, pak
Aku tetap putri kecilmu
Kau tetap bapakku
Tapi mulai saat ini
Tolong menjauhlah dari kehidupanku
Biarkan aku merasakan udara kebahagiaan
Meski hanya bertiga
Yakin kami bisa lebih bahagia
Mulai sekarang
Berhentilah mengakui ku sebagai anak kesayanganmu
Sudah cukup kau merenggut segala kebahagiaan lahir batinku
Biarkan aku tersenyum
Biarkan aku bernafas lega tanpamu
Aku berjanji akan menikmati kebersamaanku
Dengan dua malaikatku
Pelukis keindahan dalam hidupku
Wujud nyata kasih Allah kepadaku
Salam dari putrimu, Bapak.