Kalian perlu tau, bermusik dengan melantunkan qasidah adalah sesuatu yang indah, menenangkan, dan menyenangkan.
Jika kalian mau memperhatikan di setiap pukulan terbangnya, dentuman bas yang di selingi pukulan tam, juga dilengkapi dengan adanya suara khas dari darbuka, sudah pasti akan jatuh hati.
Lebih lagi jika ditambah dengan suara vokalnya yang melengking merdu, menyejukkan, dan sedap untuk di dengar.
Yakin kak, itu lebih baik dan lebih manfaat daripada bermusik dengan aliran budaya barat.
Bila belum berhasil jatuh hati pada al banjari atau hadroh, cobalah mulai dengan membuka telinga untuk mau mendengarkan dan memperhatikan musik-musik qasidah. Ana yakin, hati kakak tak terlalu keras sehingga pasti bisa senang mendengarkannya.
Kalaupun belum mau mendengarkan dan menghargai musik ini, tolong ingatlah bahwa qasidah itu menyampaikan sholawat, menuturkan kisah Rasulullah, dan banyak nasehat yang berguna untuk kehidupan bagi mereka yang mau mengetahui.
Jadi setidaknya, hilangkan pandangan rendah antum kepada kami segolongan orang pelantun sholawat ini..
Kami hanya berkumpul, berniat menebar berkah sholawat.
Kalau antum semua belum bisa senang dengan kami, setidaknya hargailah kami dengan musik yang kami bawa.
Syukron katsir☺ò¢°½
I Share What I Want To Share. Hanya tulisan mengenai apa yang saya fikirkan, apa yang saya rasakan, dan apa yang saya ketahui. Tidak lebih dari sekedar diary😊
Sabtu, 16 Juli 2016
Senin, 11 Juli 2016
Sejujurnya..
Rasa itu telah lama muncul dalam jiwaku, kemudian seiring berjalannya waktu ia menetap dan semakin bertumbuh.
Aku sempat menghukum hatiku untuk menyudahi masa itu, menghilangkan rasa dan membiasakan diri untuk bernafas tanpa lagi menyebut namamu dalam doaku.
Aku pun mulai terbiasa. Hariku berjalan seperti sedia kala, seperti sebelum ku mengenalmu.
Sejak saat itu pula aku memutuskan untuk membentengi diri dari segala yang bisa menjebakku dalam perasaan yang kelabu.
Hari demi hari, hingga tahun demi tahun berlalu.
Aku selalu berusaha untuk bermuhasabah dan mendekati Sang Maha Cinta.
Aku memohon agar Ia membimbing hatiku yang ringkih. Aku tahu Dia lah sebenar-benarnya tempat mengadu.
Aku merasa lebih baik.
Keadaan ini aku jalani, hingga saat ini.
Namun kemudian aku rasakan kejanggalan dalam hatiku. Benar, rasa yang sekian lama tlah ku kubur sedemikian dalamnya kini muncul kembali.
Padahal, tak sedikit pun ada komunikasi.
Sama sekali tidak saling berkirim kabar.
Sama sekali tidak bertemu.
Entah bagaimana, yang jelas ia bersemi kembali.
Aku masih melihatmu ada dalam masa depanku. Keyakinan itu seakan terus berada dalam jiwaku. Dan sekali lagi, aku tetap berusaha menahan. Karena aku tak pernah menginginkan pengharapan ini tumbuh semakin besar.
Seperti yang aku tahu, pengharapan kepada manusia hanya akan berujung pada dua hal. Menjadi kebahagiaan, atau menjadi sedalam-dalamnya kekecewaan.
Sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfuznya.
Begitu pula aku.
Aku hanya tak ingin kecewa di kemudian hari karena meletakkan harapan besar pada dirimu.
Itu saja.
Karena aku pun tak sedikit pun mengetahui bagaimana akhir dari kisah ini..
Apakah berujung denganmu, atau bahkan jauh dari yang aku fikirkan.
Sungguh, hatiku berperang sendiri ketika aku mencoba merenung tentang hal ini.
Aku ingin menahan, menyederhanakan rasa, hingga tidak ada ingatan apapun yang membuat aku berharap padamu lagi.
Akan tetapi, disisi lain aku menemukan banyak hal yang aku cari pada dirimu. Dan mungkin juga tak akan aku temui pada orang lain.
Bahkan, dulu aku pernah menghabiskan sebagian waktuku untuk mengawasimu. Ya, aku pernah menjadi pengagummu, meskipun hanya dalam diam.
Tapi yang jelas, aku tidak akan lagi sekonyol itu.
Aku sudah mampu berpasrah dan berserah kepada-Nya.
Aku tidak akan lagi memaksakan kehendak dan egoku.
Karena aku sudah mengerti.
Yang perlu aku lakukan hanyalah mencoba membunuh rasa dengan menyibukkan diri, terus memperbaiki diri, dan menanti. Menanti seseorang yang tertulis pada lauhul mahfuzku, untuk menjemputku. Membawaku ke dalam sebenar-benarnya jalan yang di ridhoi Allah, sebagai penyempurna separuh agamaku.💞
Aku sempat menghukum hatiku untuk menyudahi masa itu, menghilangkan rasa dan membiasakan diri untuk bernafas tanpa lagi menyebut namamu dalam doaku.
Aku pun mulai terbiasa. Hariku berjalan seperti sedia kala, seperti sebelum ku mengenalmu.
Sejak saat itu pula aku memutuskan untuk membentengi diri dari segala yang bisa menjebakku dalam perasaan yang kelabu.
Hari demi hari, hingga tahun demi tahun berlalu.
Aku selalu berusaha untuk bermuhasabah dan mendekati Sang Maha Cinta.
Aku memohon agar Ia membimbing hatiku yang ringkih. Aku tahu Dia lah sebenar-benarnya tempat mengadu.
Aku merasa lebih baik.
Keadaan ini aku jalani, hingga saat ini.
Namun kemudian aku rasakan kejanggalan dalam hatiku. Benar, rasa yang sekian lama tlah ku kubur sedemikian dalamnya kini muncul kembali.
Padahal, tak sedikit pun ada komunikasi.
Sama sekali tidak saling berkirim kabar.
Sama sekali tidak bertemu.
Entah bagaimana, yang jelas ia bersemi kembali.
Aku masih melihatmu ada dalam masa depanku. Keyakinan itu seakan terus berada dalam jiwaku. Dan sekali lagi, aku tetap berusaha menahan. Karena aku tak pernah menginginkan pengharapan ini tumbuh semakin besar.
Seperti yang aku tahu, pengharapan kepada manusia hanya akan berujung pada dua hal. Menjadi kebahagiaan, atau menjadi sedalam-dalamnya kekecewaan.
Sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfuznya.
Begitu pula aku.
Aku hanya tak ingin kecewa di kemudian hari karena meletakkan harapan besar pada dirimu.
Itu saja.
Karena aku pun tak sedikit pun mengetahui bagaimana akhir dari kisah ini..
Apakah berujung denganmu, atau bahkan jauh dari yang aku fikirkan.
Sungguh, hatiku berperang sendiri ketika aku mencoba merenung tentang hal ini.
Aku ingin menahan, menyederhanakan rasa, hingga tidak ada ingatan apapun yang membuat aku berharap padamu lagi.
Akan tetapi, disisi lain aku menemukan banyak hal yang aku cari pada dirimu. Dan mungkin juga tak akan aku temui pada orang lain.
Bahkan, dulu aku pernah menghabiskan sebagian waktuku untuk mengawasimu. Ya, aku pernah menjadi pengagummu, meskipun hanya dalam diam.
Tapi yang jelas, aku tidak akan lagi sekonyol itu.
Aku sudah mampu berpasrah dan berserah kepada-Nya.
Aku tidak akan lagi memaksakan kehendak dan egoku.
Karena aku sudah mengerti.
Yang perlu aku lakukan hanyalah mencoba membunuh rasa dengan menyibukkan diri, terus memperbaiki diri, dan menanti. Menanti seseorang yang tertulis pada lauhul mahfuzku, untuk menjemputku. Membawaku ke dalam sebenar-benarnya jalan yang di ridhoi Allah, sebagai penyempurna separuh agamaku.💞
Ampuni aku Ya Rabb..
Ya Allah, ampunilah hamba
Hamba belum dapat membentengi diri dengan sempurna..
Belum mampu menahan nafsu dengan bijaksana..
Hamba masih sering terlibat dalam pergaulan yang kurang selaras dengan perintah-Mu Ya Rabb..
Hamba masih terlibat dalam lingkup manusia yang awam mengenai hal ini..
Ampuni hamba Ya Allah..
Kuatkanlah iman dan Islam dalam diri ini, agar hamba tak kenal lelah untuk terus bermuhasabah ke dalam jalan yang benar, untuk menggapai keridhoan-Mu Ya Allah..😥
Hamba belum dapat membentengi diri dengan sempurna..
Belum mampu menahan nafsu dengan bijaksana..
Hamba masih sering terlibat dalam pergaulan yang kurang selaras dengan perintah-Mu Ya Rabb..
Hamba masih terlibat dalam lingkup manusia yang awam mengenai hal ini..
Ampuni hamba Ya Allah..
Kuatkanlah iman dan Islam dalam diri ini, agar hamba tak kenal lelah untuk terus bermuhasabah ke dalam jalan yang benar, untuk menggapai keridhoan-Mu Ya Allah..😥
Langganan:
Komentar (Atom)