Rasa itu telah lama muncul dalam jiwaku, kemudian seiring berjalannya waktu ia menetap dan semakin bertumbuh.
Aku sempat menghukum hatiku untuk menyudahi masa itu, menghilangkan rasa dan membiasakan diri untuk bernafas tanpa lagi menyebut namamu dalam doaku.
Aku pun mulai terbiasa. Hariku berjalan seperti sedia kala, seperti sebelum ku mengenalmu.
Sejak saat itu pula aku memutuskan untuk membentengi diri dari segala yang bisa menjebakku dalam perasaan yang kelabu.
Hari demi hari, hingga tahun demi tahun berlalu.
Aku selalu berusaha untuk bermuhasabah dan mendekati Sang Maha Cinta.
Aku memohon agar Ia membimbing hatiku yang ringkih. Aku tahu Dia lah sebenar-benarnya tempat mengadu.
Aku merasa lebih baik.
Keadaan ini aku jalani, hingga saat ini.
Namun kemudian aku rasakan kejanggalan dalam hatiku. Benar, rasa yang sekian lama tlah ku kubur sedemikian dalamnya kini muncul kembali.
Padahal, tak sedikit pun ada komunikasi.
Sama sekali tidak saling berkirim kabar.
Sama sekali tidak bertemu.
Entah bagaimana, yang jelas ia bersemi kembali.
Aku masih melihatmu ada dalam masa depanku. Keyakinan itu seakan terus berada dalam jiwaku. Dan sekali lagi, aku tetap berusaha menahan. Karena aku tak pernah menginginkan pengharapan ini tumbuh semakin besar.
Seperti yang aku tahu, pengharapan kepada manusia hanya akan berujung pada dua hal. Menjadi kebahagiaan, atau menjadi sedalam-dalamnya kekecewaan.
Sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfuznya.
Begitu pula aku.
Aku hanya tak ingin kecewa di kemudian hari karena meletakkan harapan besar pada dirimu.
Itu saja.
Karena aku pun tak sedikit pun mengetahui bagaimana akhir dari kisah ini..
Apakah berujung denganmu, atau bahkan jauh dari yang aku fikirkan.
Sungguh, hatiku berperang sendiri ketika aku mencoba merenung tentang hal ini.
Aku ingin menahan, menyederhanakan rasa, hingga tidak ada ingatan apapun yang membuat aku berharap padamu lagi.
Akan tetapi, disisi lain aku menemukan banyak hal yang aku cari pada dirimu. Dan mungkin juga tak akan aku temui pada orang lain.
Bahkan, dulu aku pernah menghabiskan sebagian waktuku untuk mengawasimu. Ya, aku pernah menjadi pengagummu, meskipun hanya dalam diam.
Tapi yang jelas, aku tidak akan lagi sekonyol itu.
Aku sudah mampu berpasrah dan berserah kepada-Nya.
Aku tidak akan lagi memaksakan kehendak dan egoku.
Karena aku sudah mengerti.
Yang perlu aku lakukan hanyalah mencoba membunuh rasa dengan menyibukkan diri, terus memperbaiki diri, dan menanti. Menanti seseorang yang tertulis pada lauhul mahfuzku, untuk menjemputku. Membawaku ke dalam sebenar-benarnya jalan yang di ridhoi Allah, sebagai penyempurna separuh agamaku.๐
Tidak ada komentar:
Posting Komentar