Artwork

Minggu, 16 Agustus 2015

Kejamnya Jalanku

Puncak kesedihan dan keputusasaanku terjadi pada malam ini. Memang ku akui sebenarnya keadaan terburuk tidak terjadi pada saat ini saja, semua luka yang aku derita telah menghampiriku sejak beberapa tahun yang lalu. Berawal dari keretakan keluarga yang dikarenakan Bapak melakukan hal bodoh dalam hidupnya. Yang jelas apa yang dia lakukan adalah sangat mampu melukai hati Ibu, yang pada saat itu jelas-jelas masih berstatus sebagai istrinya.
   Aku yang saat itu belum genap berusia 10 tahun, belum mampu untuk mengerti tentang permasalahan apa yang sebenarnya menimpa keluargaku. Untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah pun aku belum kuasa. Aku masih teralu polos untuk mengerti tentang itu semua. Yang aku tahu hanyalah Ibuku menangis di setiap siang dan malamnya. Seperti ada suatu hal yang menusuk batinnya dan menanaman kepedihan dalam hidupnya. Tangis yang ia luapkan sangat dalam, hingga saat ini pun aku masih mengingat beberapa kata-kata yang Ibu ucapkan sewaktu ia menangis di salah satu malam saat semua kesedihan itu terungkap.
   Lambat laun seiring bertambahnya usiaku, aku mulai mampu menyimpulkan mengenai segala hal yang sekian lama mengganjal dalam fikiranku. Aku mulai mengerti tentang keadaan terburukku disaat itu. Aku mulai merasakan sakit hati yang dirasakan oleh Ibu selama ini. Dan aku mulai faham tentang apa yang harus aku lakukan.
   Aku mulai mengetahui betapa hinanya kebodohan yang dilakukan oleh seseorang yang selama ini aku anggap sebagai "Bapak". Dan mulai saat itu, aku memutuskan untuk tidak akan pernah bersudi untuk mengakuinya sebagai orangtuaku. Apakah aku salah? Setelah semua hal yang ia lakukan dan kemudian memunculkan semua keadaan yang buruk dalam keluargaku dan menghancurkan semua kebahagiaan dan mimpi indah dalam hidupku.. apakah aku harus tetap diam, dan menganggap semua baik-baik saja? Maaf, aku tidak sebodoh itu untuk terus dibodohi. Aku tak akan pernah bisa menerima semua perlakuan yang selama ini ia lakukan untuk menghancurkan kehidupanku. Aku tak akan pernah bisa terima atas segala perlakuan yang ia lakukan saat ia melukai Ibuku. Satu-satunya malaikat terbaikku, dilukai dan di hancurkan oleh seorang bajingan seperti dia? Apakah aku harus tetap tinggal diam? Tidak akan pernah.
   Kebencianku akan tetap ku bawa. Sampai kapanpun. Semua dendam ini harus terbalas. Semua sakit hati ini harus terbayar. Dan semua ingatan tentang ini akan tetap tertanam dalam setiap nafasku.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar