Ibuk, adek..
Aku rindu
Aku pergi untuk mencari ketenangan
Sudah tenang malah terbayang
Aku pergi mencari lega
Sudah lega malah tidak tega
Bagai simalakama
Aku bingung harus bagaimana
Dirumah tidak betah
Tapi aku pergi rumah ku rindui
Aku tidak ingin kita berubah
Tidak ingin kurang juga bertambah
Aku ingin kita terus bahagia
Ya dengan hidup bertiga seperti sedia kala
Cinta sederhana diantara kita kurasa sudah lebih dari cukup
Meski dengan lingkungan kita terbiasa tertutup
Tapi rumah mampu memberi semua yang kita butuh
Karena disana selalu ada kasih sayang dan cinta yang utuh
Ketahuilah Ibuk, Adek...
Cinta pertamaku kepada manusia ada pada kalian
Aku selalu rindukan kalian
Meski lisan belum sempat mengungkapkan
Ku harap kalian mampu mengartikan
Ibuk, Adek...
Aku rindu kalian
Bolehkah aku mendapat peluk cium dari kalian?
Bolehkah kita berbagi pundak untuk bersandar dan menangis?
Ibuk, Adek...
Mengertilah aku
Kalianlah motivasi terbesarku
Kalianlah semangat juangku
Kalianlah yang selalu ada dalam doa dan harapku
Selalu bahagialah untukku
Karena kalian segalanya bagiku
I Share What I Want To Share. Hanya tulisan mengenai apa yang saya fikirkan, apa yang saya rasakan, dan apa yang saya ketahui. Tidak lebih dari sekedar diary😊
Minggu, 11 September 2016
Selasa, 16 Agustus 2016
15 Agustus 2016
Maaf ibuk
Tapi aku memang tak tahu harus bagaimana lagi
Aku bingung harus seperti apa
Yang jelas hatiku jujur
Aku tak bisa membohongi diriku sendiri
Ibuk,
Mengertilah hatiku
Putrimu ini tak menghendaki dia kembali lagi ke tengah2 kita yang sudah cukup tenang ini
Apapun alasannya
Aku tidak akan bisa terima buk
Pahamilah aku
Aku terlalu lelah untuk menangis lagi
Aku sudah terlalu tak berdaya untuk mengeluh lagi
Lebih baik aku pergi dari rumah buk
Daripada harus menahan sakit yang bertubi
O ya
Aku juga ingin bertanya, buk
Kenapa semalam dia bisa kembali?
Kenapa ada pintu terbuka untuknya?
Kenapa bisa itu terjadi tanpa aku tahu?
Sengajakah?
Memang direncanakan kah?
Kalau benar tolong katakan saja buk
Daripada rasa ini menghantuiku
Aku ingin bertanya
tapi untuk apa
Aku kira sudah tidak ada gunanya
Mungkin ibuk menganggapku hanyalah anak kecil yang tak tahu apa2 tentang urusan orang dewasa
Mungkin ibuk menganggapku tak berhak tahu permasalahan orang dewasa
Sayang sekali aku tidak terlalu berani untuk mengungkapkan pertanyaan penuh teki ku itu, buk
Jangankan mengucapkan secara lisan
Merenung sendiri pun aku tak mampu menahan air mata
Aku selalu tak berhasil menahannya
Ia akan selalu tumpah
Aku membiarkannya , buk
Karena, mungkin hanya ia yang mampu menunjukkan seberapa sakit batinku selama ini
Bukan apa
Aku hanya kecewa
Atas kembalinya dia
Aku tidak bisa terima
Tolong ibuk berfikirlah
Mau sampai kapan disakiti
Mau sampai kapan dibohongi
Mau sampai kapan dirayu
Mau sampai kapan digombali
Mulutnya penuh racun, buk
Ku kira ibuk sudah cukup tahu
Nyatanya masih saja sampai sekarang ibuk bisa percaya
Nyatanya masih saja sampai sekarang ibuk bisa menerimanya
Ibuk, maaf
Ibuk tidak terlalu bodoh kan?
Ibuk mengajarkanku untuk pintar bukan?
Tolong tunjukkan kalau ibuk tidak terlalu bodoh untuk terus dibodohi oleh orang bodoh seperti dia
O ya
Kalau ibuk berfikir mau kembali dengannya
Dengan alsan karena tak mampu membiayai pendidikanku
Maaf, buk
Tapi sebaiknya katakan dengan lugas saja di depanku
Aku bisa, memutuskan untuk bekerja dahulu sebelum meneruskan studiku
Bukan masalah besar bagiku, buk
Lebih baik menunda studi daripada mengulang bencana dalam keluarga lagi, bukan?
Sehingga aku tak perlu lagi ada dia, buk
Sehingga tak ada alasan lagi untuk ibuk kembali menerimanya
Aku salah buk?
Katakan saja
Ku kira engkau sudah cukup tahu buk
Putrimu ini peka rasa
Sangat mudah merasa
Tanpa kata pun aku selalu mampu menerjemahkan apa yang sedang terjadi
Satu lagi yang perlu ibuk tahu..
Lahir batin aku membenci dia
Alasanku adalah karena aku tidak pernah rela air matamu berjatuhan karena dia, buk
Dia terlalu hina untuk kau tangisi, buk
Karena aku tak pernah rela surga terdekatku digores hatinya dengan luka
Karena aku tak pernah rela, kehidupan wujud kasih Tuhanku padaku di khianati separah ini
Aku menbencinya karena aku menyayangimu, buk.
Maaf apabila aku pernah membuat air matamu menetes buk
Maaf apabila aku pernah membuat hatimu terluka buk
Maaf apabila aku pernah menyakitimu dan mengecewakanmu buk
Maaf aku belum pernah menunjukkan baktiku padamu
Maaf aku belum pernah membanggakanmu
Maaf jika sampai saat ini kau belum pernah bangga memiliki aku dalam hidupmu, buk
Tunggu suatu nanti, doakan aku agar dapat membanggakanmu buk.
Pahamilah buk. Aku mencintaimu fillah.
Tapi aku memang tak tahu harus bagaimana lagi
Aku bingung harus seperti apa
Yang jelas hatiku jujur
Aku tak bisa membohongi diriku sendiri
Ibuk,
Mengertilah hatiku
Putrimu ini tak menghendaki dia kembali lagi ke tengah2 kita yang sudah cukup tenang ini
Apapun alasannya
Aku tidak akan bisa terima buk
Pahamilah aku
Aku terlalu lelah untuk menangis lagi
Aku sudah terlalu tak berdaya untuk mengeluh lagi
Lebih baik aku pergi dari rumah buk
Daripada harus menahan sakit yang bertubi
O ya
Aku juga ingin bertanya, buk
Kenapa semalam dia bisa kembali?
Kenapa ada pintu terbuka untuknya?
Kenapa bisa itu terjadi tanpa aku tahu?
Sengajakah?
Memang direncanakan kah?
Kalau benar tolong katakan saja buk
Daripada rasa ini menghantuiku
Aku ingin bertanya
tapi untuk apa
Aku kira sudah tidak ada gunanya
Mungkin ibuk menganggapku hanyalah anak kecil yang tak tahu apa2 tentang urusan orang dewasa
Mungkin ibuk menganggapku tak berhak tahu permasalahan orang dewasa
Sayang sekali aku tidak terlalu berani untuk mengungkapkan pertanyaan penuh teki ku itu, buk
Jangankan mengucapkan secara lisan
Merenung sendiri pun aku tak mampu menahan air mata
Aku selalu tak berhasil menahannya
Ia akan selalu tumpah
Aku membiarkannya , buk
Karena, mungkin hanya ia yang mampu menunjukkan seberapa sakit batinku selama ini
Bukan apa
Aku hanya kecewa
Atas kembalinya dia
Aku tidak bisa terima
Tolong ibuk berfikirlah
Mau sampai kapan disakiti
Mau sampai kapan dibohongi
Mau sampai kapan dirayu
Mau sampai kapan digombali
Mulutnya penuh racun, buk
Ku kira ibuk sudah cukup tahu
Nyatanya masih saja sampai sekarang ibuk bisa percaya
Nyatanya masih saja sampai sekarang ibuk bisa menerimanya
Ibuk, maaf
Ibuk tidak terlalu bodoh kan?
Ibuk mengajarkanku untuk pintar bukan?
Tolong tunjukkan kalau ibuk tidak terlalu bodoh untuk terus dibodohi oleh orang bodoh seperti dia
O ya
Kalau ibuk berfikir mau kembali dengannya
Dengan alsan karena tak mampu membiayai pendidikanku
Maaf, buk
Tapi sebaiknya katakan dengan lugas saja di depanku
Aku bisa, memutuskan untuk bekerja dahulu sebelum meneruskan studiku
Bukan masalah besar bagiku, buk
Lebih baik menunda studi daripada mengulang bencana dalam keluarga lagi, bukan?
Sehingga aku tak perlu lagi ada dia, buk
Sehingga tak ada alasan lagi untuk ibuk kembali menerimanya
Aku salah buk?
Katakan saja
Ku kira engkau sudah cukup tahu buk
Putrimu ini peka rasa
Sangat mudah merasa
Tanpa kata pun aku selalu mampu menerjemahkan apa yang sedang terjadi
Satu lagi yang perlu ibuk tahu..
Lahir batin aku membenci dia
Alasanku adalah karena aku tidak pernah rela air matamu berjatuhan karena dia, buk
Dia terlalu hina untuk kau tangisi, buk
Karena aku tak pernah rela surga terdekatku digores hatinya dengan luka
Karena aku tak pernah rela, kehidupan wujud kasih Tuhanku padaku di khianati separah ini
Aku menbencinya karena aku menyayangimu, buk.
Maaf apabila aku pernah membuat air matamu menetes buk
Maaf apabila aku pernah membuat hatimu terluka buk
Maaf apabila aku pernah menyakitimu dan mengecewakanmu buk
Maaf aku belum pernah menunjukkan baktiku padamu
Maaf aku belum pernah membanggakanmu
Maaf jika sampai saat ini kau belum pernah bangga memiliki aku dalam hidupmu, buk
Tunggu suatu nanti, doakan aku agar dapat membanggakanmu buk.
Pahamilah buk. Aku mencintaimu fillah.
Minggu, 31 Juli 2016
Untukmu, Bapakku
Bapak..
Tidakkah kau rindu denganku?
Putrimu yang sedari dulu kau banggakan
Putrimu yang sedari dulu kau sayang
Tahukah kau
Aku merindukanmu
Merindukan kasih dan sayang yang selalu kau beri dulu
Rindu dekap pelukmu
Rindu mata teduhmu
Rindu hati damaimu
Tahukah kau
Aku begitu bangga memilikimu
Aku sangat mengidolakanmu
betapa aku merasa nyaman dalam pelukmu
Tahukah engkau, pak..
Sekarang semua tidak lagi sama seperti dulu
Tidak lagi ada jiwamu yang dulu
Kau merubahnya
Segalanya
Kau membuatku membencimu
Kau membuat aku jauh darimu
Kau merajut jarak denganku
Apa salah dan dosaku
Setega itu kau melenyapkan semua kedamaian yang pernah ada
Setega itukah melukai putrimu
Sampai hati kau melihat putrimu meratap setiap hari
Sampai hati kau menggores luka dalam hatinya
Sampai hati kau meninggalkannya
Kemana kah kau yang dulu
Kemana perginya damai hatimu
Kemana perginya kasih sayangmu
Tahukah kau, Bapakku...
Aku telah tumbuh
Aku sudah dewasa
Dan dalam rumah ini lah aku dibesarkan
Dalam rumah ini pula aku mengetahui semuanya
Perlahan aku belajar mengerti
Perlahan aku berusaha memahami
Bapak...
Semua sudah jelas
Aku sangat kecewa
Aku sangat terluka
Bapak...
Bisakah kau beritahu aku
Harus bagaimana aku
Harus seperti apa aku
Apa lagi yang ku mampu
Aku tetaplah putrimu
Aku tetap memiliki darahmu dalam darahku
Aku tetap memiliki ingatan tentangmu
Aku tetap memiliki ikatan denganmu
Namun asal engkau tahu
Semua yang kau lakukan itu
Sulit untuk ku terima
Sulit untuk ku maafkan pula
Maafkan aku
Tapi aku sangat membencimu
Aku sangat menyesali kedekatanku denganmu, dulu
Aku begitu muak mendengar namamu
Maafkan aku
Tapi air mataku telah kering terkuras olehmu
Hatiku telah penuh lubang luka karenamu
Begitu juga dengan kehidupanku
Bapak...
Mungkin ini sudah garisku
Harus bertahan diatas liku kertas kehidupan-Nya
Harus mampu kuat
Meski sebenarnya rapuh
Aku sudah cukup mampu menahan diriku
Aku sudah mengerti
Jangan risau, pak
Aku tetap putri kecilmu
Kau tetap bapakku
Tapi mulai saat ini
Tolong menjauhlah dari kehidupanku
Biarkan aku merasakan udara kebahagiaan
Meski hanya bertiga
Yakin kami bisa lebih bahagia
Mulai sekarang
Berhentilah mengakui ku sebagai anak kesayanganmu
Sudah cukup kau merenggut segala kebahagiaan lahir batinku
Biarkan aku tersenyum
Biarkan aku bernafas lega tanpamu
Aku berjanji akan menikmati kebersamaanku
Dengan dua malaikatku
Pelukis keindahan dalam hidupku
Wujud nyata kasih Allah kepadaku
Salam dari putrimu, Bapak.
Tidakkah kau rindu denganku?
Putrimu yang sedari dulu kau banggakan
Putrimu yang sedari dulu kau sayang
Tahukah kau
Aku merindukanmu
Merindukan kasih dan sayang yang selalu kau beri dulu
Rindu dekap pelukmu
Rindu mata teduhmu
Rindu hati damaimu
Tahukah kau
Aku begitu bangga memilikimu
Aku sangat mengidolakanmu
betapa aku merasa nyaman dalam pelukmu
Tahukah engkau, pak..
Sekarang semua tidak lagi sama seperti dulu
Tidak lagi ada jiwamu yang dulu
Kau merubahnya
Segalanya
Kau membuatku membencimu
Kau membuat aku jauh darimu
Kau merajut jarak denganku
Apa salah dan dosaku
Setega itu kau melenyapkan semua kedamaian yang pernah ada
Setega itukah melukai putrimu
Sampai hati kau melihat putrimu meratap setiap hari
Sampai hati kau menggores luka dalam hatinya
Sampai hati kau meninggalkannya
Kemana kah kau yang dulu
Kemana perginya damai hatimu
Kemana perginya kasih sayangmu
Tahukah kau, Bapakku...
Aku telah tumbuh
Aku sudah dewasa
Dan dalam rumah ini lah aku dibesarkan
Dalam rumah ini pula aku mengetahui semuanya
Perlahan aku belajar mengerti
Perlahan aku berusaha memahami
Bapak...
Semua sudah jelas
Aku sangat kecewa
Aku sangat terluka
Bapak...
Bisakah kau beritahu aku
Harus bagaimana aku
Harus seperti apa aku
Apa lagi yang ku mampu
Aku tetaplah putrimu
Aku tetap memiliki darahmu dalam darahku
Aku tetap memiliki ingatan tentangmu
Aku tetap memiliki ikatan denganmu
Namun asal engkau tahu
Semua yang kau lakukan itu
Sulit untuk ku terima
Sulit untuk ku maafkan pula
Maafkan aku
Tapi aku sangat membencimu
Aku sangat menyesali kedekatanku denganmu, dulu
Aku begitu muak mendengar namamu
Maafkan aku
Tapi air mataku telah kering terkuras olehmu
Hatiku telah penuh lubang luka karenamu
Begitu juga dengan kehidupanku
Bapak...
Mungkin ini sudah garisku
Harus bertahan diatas liku kertas kehidupan-Nya
Harus mampu kuat
Meski sebenarnya rapuh
Aku sudah cukup mampu menahan diriku
Aku sudah mengerti
Jangan risau, pak
Aku tetap putri kecilmu
Kau tetap bapakku
Tapi mulai saat ini
Tolong menjauhlah dari kehidupanku
Biarkan aku merasakan udara kebahagiaan
Meski hanya bertiga
Yakin kami bisa lebih bahagia
Mulai sekarang
Berhentilah mengakui ku sebagai anak kesayanganmu
Sudah cukup kau merenggut segala kebahagiaan lahir batinku
Biarkan aku tersenyum
Biarkan aku bernafas lega tanpamu
Aku berjanji akan menikmati kebersamaanku
Dengan dua malaikatku
Pelukis keindahan dalam hidupku
Wujud nyata kasih Allah kepadaku
Salam dari putrimu, Bapak.
Rabu, 20 Juli 2016
Proud to be social's student
Demi Allah aku sama sekali nggak menyesali keadaanku sekarang.
Masuk ke jurusan IPS memang pilihanku sendiri, bukan atas paksaan orang lain.
Lalu, sekarang ya alhamdulillah sudah mampu tawakal menjalani, bangga mengakui juga.
Yang ipa jg belum tentu semuanya bisa jd orang berhasil ke depannya.
Anak ipa yang males-malesan? Banyak.
Anak yang masuk ke jurusan ipa sekedar untuk mencari ketenaran? Udah umum. Banyak banget.
Anak yang masuk ipa cuma karena pengen terlihat lebih "wah" dari temennya yang di jurusan ips? Gak keitung.
Sedih jg sih dengerin gunjingannya anak ipa buat anak ips.
Dari dulu ips dianggap remeh, urakan, dan kumpulan nakanak nggak pinter.
Yaa, kalau dulu sih percaya aja.
Tapi sekarang, masih aja nganggep remeh anak ips? Haha. Itu keliru kak.
Gini ya, anak ips juga banyak yang pinter.
Nggak semua anak ips adalah anak urakan dan banyak juga anak ips yang tahu sopan santun.
Anak ips bahkan dibiasakan untuk lebih percaya diri, memimpin suatu forum, menyampaikan materi, bahkan aktif dalam kegiatan diskusi atau debat mengenai tema tertentu.
Anak ips di ajarkan bagaimana cara untuk berani mengungkapkan pendapat, memunculkan potensi diri, membangun dan mewujudkan suatu tujuan.
Bukan hanya melulu membahas teori.
Anak ips yang berhasil meraih penghargaan juga banyak.
Mungkin pertanyaan orang-orang di luar adalah:
"Masuk ips besok bisa jadi apa?"
Ihh gemes banget sama pertanyaan yang satu ini.
Oke, kali ini aku mau sebutin. Tapi cuma beberapa. Yakali kalau semuanya, sampe dua bulan ke depan mungkin belum kelar aku nulisnya..
Langsung aja ya,
Jebolan ips bisa jadi seorang psikolog, sosiolog, sejarawan, akuntan publik, kerja di kantor pajak, kerja di bank, bisa jadi guru, dosen, wirausahawan, pengusaha, sarjana ekonomi, sarjana akuntansi, sarjana akuntansi manajemen bisnis, sarjana ilmu antropologi&sosiologi, sarjana ilmu sejarah dan masih banyak yang lainnya.
Tunggu, para pempimpin di Indonesia sebagian besar juga berasal dari lulusan IPS, lho.
Aktivis partai politik, DPR, Bupati, Gubernur, bahkan Presiden? Bisa banget.
Inti dari ulasan aku kali ini adalah:
Semua bisa diraih. Bukan terpacu pada jurusan apa yang diambil saat menempuh pendidikan.
Jurusan hanya menjadi tangga penuntun untuk kita meraih impian dan tujuan kita.
Semua tergantung pada niat, seberapa besar kita berjuang, seberapa tekun kita berusaha, seberapa gigih diri kita percaya.
Kita semua memiliki potensi untuk berhasil. Dan kembali lagi, semua tergantung pada usaha kita untuk meraihnya.
Ps: So, berhentilah merendahkan anak ips yaa say! I love you! 💋
Masuk ke jurusan IPS memang pilihanku sendiri, bukan atas paksaan orang lain.
Lalu, sekarang ya alhamdulillah sudah mampu tawakal menjalani, bangga mengakui juga.
Yang ipa jg belum tentu semuanya bisa jd orang berhasil ke depannya.
Anak ipa yang males-malesan? Banyak.
Anak yang masuk ke jurusan ipa sekedar untuk mencari ketenaran? Udah umum. Banyak banget.
Anak yang masuk ipa cuma karena pengen terlihat lebih "wah" dari temennya yang di jurusan ips? Gak keitung.
Sedih jg sih dengerin gunjingannya anak ipa buat anak ips.
Dari dulu ips dianggap remeh, urakan, dan kumpulan nakanak nggak pinter.
Yaa, kalau dulu sih percaya aja.
Tapi sekarang, masih aja nganggep remeh anak ips? Haha. Itu keliru kak.
Gini ya, anak ips juga banyak yang pinter.
Nggak semua anak ips adalah anak urakan dan banyak juga anak ips yang tahu sopan santun.
Anak ips bahkan dibiasakan untuk lebih percaya diri, memimpin suatu forum, menyampaikan materi, bahkan aktif dalam kegiatan diskusi atau debat mengenai tema tertentu.
Anak ips di ajarkan bagaimana cara untuk berani mengungkapkan pendapat, memunculkan potensi diri, membangun dan mewujudkan suatu tujuan.
Bukan hanya melulu membahas teori.
Anak ips yang berhasil meraih penghargaan juga banyak.
Mungkin pertanyaan orang-orang di luar adalah:
"Masuk ips besok bisa jadi apa?"
Ihh gemes banget sama pertanyaan yang satu ini.
Oke, kali ini aku mau sebutin. Tapi cuma beberapa. Yakali kalau semuanya, sampe dua bulan ke depan mungkin belum kelar aku nulisnya..
Langsung aja ya,
Jebolan ips bisa jadi seorang psikolog, sosiolog, sejarawan, akuntan publik, kerja di kantor pajak, kerja di bank, bisa jadi guru, dosen, wirausahawan, pengusaha, sarjana ekonomi, sarjana akuntansi, sarjana akuntansi manajemen bisnis, sarjana ilmu antropologi&sosiologi, sarjana ilmu sejarah dan masih banyak yang lainnya.
Tunggu, para pempimpin di Indonesia sebagian besar juga berasal dari lulusan IPS, lho.
Aktivis partai politik, DPR, Bupati, Gubernur, bahkan Presiden? Bisa banget.
Inti dari ulasan aku kali ini adalah:
Semua bisa diraih. Bukan terpacu pada jurusan apa yang diambil saat menempuh pendidikan.
Jurusan hanya menjadi tangga penuntun untuk kita meraih impian dan tujuan kita.
Semua tergantung pada niat, seberapa besar kita berjuang, seberapa tekun kita berusaha, seberapa gigih diri kita percaya.
Kita semua memiliki potensi untuk berhasil. Dan kembali lagi, semua tergantung pada usaha kita untuk meraihnya.
Ps: So, berhentilah merendahkan anak ips yaa say! I love you! 💋
Minggu, 17 Juli 2016
Pesanku untukmu, adikku..
Aku punya ribuan keterbatasan dan ketidakmampuan. Jika mereka mengatakan aku termasuk merupakan anak yang berprestasi, mungkin mereka belum mengetahui kalau aku mempunyai banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan. Pengetahuanku masih sangat terbatas, hubungan sosial ku pun kurang baik, aku adalah seorang yang sukar menyatu dengan lingkungan.
Tapi aku tetap memiliki pengharapan dan impian yang tinggi. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan tetap terus belajar,demi masa depanku, demi penghidupanku kelak di masa yang akan datang, dan demi generasiku yang semoga semakin baik.
Teruntuk adikku, aku sangat mengharapkan banyak hal darimu. Aku tahu kau lebih berpotensi daripada aku. Aku tahu kau lebih mampu dan memiliki banyak peluang yang dapat kau manfaatkan sebaik mungkin.
Semua yang mengenal kita pun pasti juga mengetahui, bahwa kau punya banyak hal yang tidak ku punyai.
Kau lebih cepat mengerti, kau cepat menyatu dengan lingkungan barumu dan orang-orang di sekitarmu, kau lebih berani dalam berpendapat, kau lebih memiliki sifat yang patut dijadikan sebagai seorang pemimpin.
Aku berharap banyak padamu.
Maafkan aku, apabila aku tak terlalu banyak memberimu bekal untuk kehidupanmu. Maafkan apabila aku jauh dari kesempurnaan sebagai tauladan bagimu. Maafkanlah karena aku bukan seorang kakak terbaik.
Aku berpesan dan berharap, jadilah kau anak yang cerdas, berani, dan aktif. Jadilah orang yang berguna dan membanggakan. Berjanjilah bahwa kau akan memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada aku. Berjanjilah bahwa kau akan mampu menjadi kebanggaan orangtua mu.
Tapi aku tetap memiliki pengharapan dan impian yang tinggi. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan tetap terus belajar,demi masa depanku, demi penghidupanku kelak di masa yang akan datang, dan demi generasiku yang semoga semakin baik.
Teruntuk adikku, aku sangat mengharapkan banyak hal darimu. Aku tahu kau lebih berpotensi daripada aku. Aku tahu kau lebih mampu dan memiliki banyak peluang yang dapat kau manfaatkan sebaik mungkin.
Semua yang mengenal kita pun pasti juga mengetahui, bahwa kau punya banyak hal yang tidak ku punyai.
Kau lebih cepat mengerti, kau cepat menyatu dengan lingkungan barumu dan orang-orang di sekitarmu, kau lebih berani dalam berpendapat, kau lebih memiliki sifat yang patut dijadikan sebagai seorang pemimpin.
Aku berharap banyak padamu.
Maafkan aku, apabila aku tak terlalu banyak memberimu bekal untuk kehidupanmu. Maafkan apabila aku jauh dari kesempurnaan sebagai tauladan bagimu. Maafkanlah karena aku bukan seorang kakak terbaik.
Aku berpesan dan berharap, jadilah kau anak yang cerdas, berani, dan aktif. Jadilah orang yang berguna dan membanggakan. Berjanjilah bahwa kau akan memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada aku. Berjanjilah bahwa kau akan mampu menjadi kebanggaan orangtua mu.
Sabtu, 16 Juli 2016
Tentang kami
Kalian perlu tau, bermusik dengan melantunkan qasidah adalah sesuatu yang indah, menenangkan, dan menyenangkan.
Jika kalian mau memperhatikan di setiap pukulan terbangnya, dentuman bas yang di selingi pukulan tam, juga dilengkapi dengan adanya suara khas dari darbuka, sudah pasti akan jatuh hati.
Lebih lagi jika ditambah dengan suara vokalnya yang melengking merdu, menyejukkan, dan sedap untuk di dengar.
Yakin kak, itu lebih baik dan lebih manfaat daripada bermusik dengan aliran budaya barat.
Bila belum berhasil jatuh hati pada al banjari atau hadroh, cobalah mulai dengan membuka telinga untuk mau mendengarkan dan memperhatikan musik-musik qasidah. Ana yakin, hati kakak tak terlalu keras sehingga pasti bisa senang mendengarkannya.
Kalaupun belum mau mendengarkan dan menghargai musik ini, tolong ingatlah bahwa qasidah itu menyampaikan sholawat, menuturkan kisah Rasulullah, dan banyak nasehat yang berguna untuk kehidupan bagi mereka yang mau mengetahui.
Jadi setidaknya, hilangkan pandangan rendah antum kepada kami segolongan orang pelantun sholawat ini..
Kami hanya berkumpul, berniat menebar berkah sholawat.
Kalau antum semua belum bisa senang dengan kami, setidaknya hargailah kami dengan musik yang kami bawa.
Syukron katsir☺ò¢°½
Jika kalian mau memperhatikan di setiap pukulan terbangnya, dentuman bas yang di selingi pukulan tam, juga dilengkapi dengan adanya suara khas dari darbuka, sudah pasti akan jatuh hati.
Lebih lagi jika ditambah dengan suara vokalnya yang melengking merdu, menyejukkan, dan sedap untuk di dengar.
Yakin kak, itu lebih baik dan lebih manfaat daripada bermusik dengan aliran budaya barat.
Bila belum berhasil jatuh hati pada al banjari atau hadroh, cobalah mulai dengan membuka telinga untuk mau mendengarkan dan memperhatikan musik-musik qasidah. Ana yakin, hati kakak tak terlalu keras sehingga pasti bisa senang mendengarkannya.
Kalaupun belum mau mendengarkan dan menghargai musik ini, tolong ingatlah bahwa qasidah itu menyampaikan sholawat, menuturkan kisah Rasulullah, dan banyak nasehat yang berguna untuk kehidupan bagi mereka yang mau mengetahui.
Jadi setidaknya, hilangkan pandangan rendah antum kepada kami segolongan orang pelantun sholawat ini..
Kami hanya berkumpul, berniat menebar berkah sholawat.
Kalau antum semua belum bisa senang dengan kami, setidaknya hargailah kami dengan musik yang kami bawa.
Syukron katsir☺ò¢°½
Senin, 11 Juli 2016
Sejujurnya..
Rasa itu telah lama muncul dalam jiwaku, kemudian seiring berjalannya waktu ia menetap dan semakin bertumbuh.
Aku sempat menghukum hatiku untuk menyudahi masa itu, menghilangkan rasa dan membiasakan diri untuk bernafas tanpa lagi menyebut namamu dalam doaku.
Aku pun mulai terbiasa. Hariku berjalan seperti sedia kala, seperti sebelum ku mengenalmu.
Sejak saat itu pula aku memutuskan untuk membentengi diri dari segala yang bisa menjebakku dalam perasaan yang kelabu.
Hari demi hari, hingga tahun demi tahun berlalu.
Aku selalu berusaha untuk bermuhasabah dan mendekati Sang Maha Cinta.
Aku memohon agar Ia membimbing hatiku yang ringkih. Aku tahu Dia lah sebenar-benarnya tempat mengadu.
Aku merasa lebih baik.
Keadaan ini aku jalani, hingga saat ini.
Namun kemudian aku rasakan kejanggalan dalam hatiku. Benar, rasa yang sekian lama tlah ku kubur sedemikian dalamnya kini muncul kembali.
Padahal, tak sedikit pun ada komunikasi.
Sama sekali tidak saling berkirim kabar.
Sama sekali tidak bertemu.
Entah bagaimana, yang jelas ia bersemi kembali.
Aku masih melihatmu ada dalam masa depanku. Keyakinan itu seakan terus berada dalam jiwaku. Dan sekali lagi, aku tetap berusaha menahan. Karena aku tak pernah menginginkan pengharapan ini tumbuh semakin besar.
Seperti yang aku tahu, pengharapan kepada manusia hanya akan berujung pada dua hal. Menjadi kebahagiaan, atau menjadi sedalam-dalamnya kekecewaan.
Sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfuznya.
Begitu pula aku.
Aku hanya tak ingin kecewa di kemudian hari karena meletakkan harapan besar pada dirimu.
Itu saja.
Karena aku pun tak sedikit pun mengetahui bagaimana akhir dari kisah ini..
Apakah berujung denganmu, atau bahkan jauh dari yang aku fikirkan.
Sungguh, hatiku berperang sendiri ketika aku mencoba merenung tentang hal ini.
Aku ingin menahan, menyederhanakan rasa, hingga tidak ada ingatan apapun yang membuat aku berharap padamu lagi.
Akan tetapi, disisi lain aku menemukan banyak hal yang aku cari pada dirimu. Dan mungkin juga tak akan aku temui pada orang lain.
Bahkan, dulu aku pernah menghabiskan sebagian waktuku untuk mengawasimu. Ya, aku pernah menjadi pengagummu, meskipun hanya dalam diam.
Tapi yang jelas, aku tidak akan lagi sekonyol itu.
Aku sudah mampu berpasrah dan berserah kepada-Nya.
Aku tidak akan lagi memaksakan kehendak dan egoku.
Karena aku sudah mengerti.
Yang perlu aku lakukan hanyalah mencoba membunuh rasa dengan menyibukkan diri, terus memperbaiki diri, dan menanti. Menanti seseorang yang tertulis pada lauhul mahfuzku, untuk menjemputku. Membawaku ke dalam sebenar-benarnya jalan yang di ridhoi Allah, sebagai penyempurna separuh agamaku.💞
Aku sempat menghukum hatiku untuk menyudahi masa itu, menghilangkan rasa dan membiasakan diri untuk bernafas tanpa lagi menyebut namamu dalam doaku.
Aku pun mulai terbiasa. Hariku berjalan seperti sedia kala, seperti sebelum ku mengenalmu.
Sejak saat itu pula aku memutuskan untuk membentengi diri dari segala yang bisa menjebakku dalam perasaan yang kelabu.
Hari demi hari, hingga tahun demi tahun berlalu.
Aku selalu berusaha untuk bermuhasabah dan mendekati Sang Maha Cinta.
Aku memohon agar Ia membimbing hatiku yang ringkih. Aku tahu Dia lah sebenar-benarnya tempat mengadu.
Aku merasa lebih baik.
Keadaan ini aku jalani, hingga saat ini.
Namun kemudian aku rasakan kejanggalan dalam hatiku. Benar, rasa yang sekian lama tlah ku kubur sedemikian dalamnya kini muncul kembali.
Padahal, tak sedikit pun ada komunikasi.
Sama sekali tidak saling berkirim kabar.
Sama sekali tidak bertemu.
Entah bagaimana, yang jelas ia bersemi kembali.
Aku masih melihatmu ada dalam masa depanku. Keyakinan itu seakan terus berada dalam jiwaku. Dan sekali lagi, aku tetap berusaha menahan. Karena aku tak pernah menginginkan pengharapan ini tumbuh semakin besar.
Seperti yang aku tahu, pengharapan kepada manusia hanya akan berujung pada dua hal. Menjadi kebahagiaan, atau menjadi sedalam-dalamnya kekecewaan.
Sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui apa yang tertulis di lauhul mahfuznya.
Begitu pula aku.
Aku hanya tak ingin kecewa di kemudian hari karena meletakkan harapan besar pada dirimu.
Itu saja.
Karena aku pun tak sedikit pun mengetahui bagaimana akhir dari kisah ini..
Apakah berujung denganmu, atau bahkan jauh dari yang aku fikirkan.
Sungguh, hatiku berperang sendiri ketika aku mencoba merenung tentang hal ini.
Aku ingin menahan, menyederhanakan rasa, hingga tidak ada ingatan apapun yang membuat aku berharap padamu lagi.
Akan tetapi, disisi lain aku menemukan banyak hal yang aku cari pada dirimu. Dan mungkin juga tak akan aku temui pada orang lain.
Bahkan, dulu aku pernah menghabiskan sebagian waktuku untuk mengawasimu. Ya, aku pernah menjadi pengagummu, meskipun hanya dalam diam.
Tapi yang jelas, aku tidak akan lagi sekonyol itu.
Aku sudah mampu berpasrah dan berserah kepada-Nya.
Aku tidak akan lagi memaksakan kehendak dan egoku.
Karena aku sudah mengerti.
Yang perlu aku lakukan hanyalah mencoba membunuh rasa dengan menyibukkan diri, terus memperbaiki diri, dan menanti. Menanti seseorang yang tertulis pada lauhul mahfuzku, untuk menjemputku. Membawaku ke dalam sebenar-benarnya jalan yang di ridhoi Allah, sebagai penyempurna separuh agamaku.💞
Ampuni aku Ya Rabb..
Ya Allah, ampunilah hamba
Hamba belum dapat membentengi diri dengan sempurna..
Belum mampu menahan nafsu dengan bijaksana..
Hamba masih sering terlibat dalam pergaulan yang kurang selaras dengan perintah-Mu Ya Rabb..
Hamba masih terlibat dalam lingkup manusia yang awam mengenai hal ini..
Ampuni hamba Ya Allah..
Kuatkanlah iman dan Islam dalam diri ini, agar hamba tak kenal lelah untuk terus bermuhasabah ke dalam jalan yang benar, untuk menggapai keridhoan-Mu Ya Allah..😥
Hamba belum dapat membentengi diri dengan sempurna..
Belum mampu menahan nafsu dengan bijaksana..
Hamba masih sering terlibat dalam pergaulan yang kurang selaras dengan perintah-Mu Ya Rabb..
Hamba masih terlibat dalam lingkup manusia yang awam mengenai hal ini..
Ampuni hamba Ya Allah..
Kuatkanlah iman dan Islam dalam diri ini, agar hamba tak kenal lelah untuk terus bermuhasabah ke dalam jalan yang benar, untuk menggapai keridhoan-Mu Ya Allah..😥
Langganan:
Komentar (Atom)